Warisan Praja
Mangkualaman Heritage of
Praja Mangkualaman
Sejarah, sengketa, dan para penguasa kepangeranan The history, the dispute, and the sovereigns of the principality
Akar Sejarah:
Kadipaten Pakualaman Historical Roots:
The Pakualaman Principality
Akar Kepangeranan Merdiko Praja Mangkualaman bermula dari berdirinya Kadipaten Pakualaman pada tahun 1813 — salah satu dari empat istana kerajaan yang mewarisi Kerajaan Islam Mataram, bersama Kasunanan Surakarta, Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, dan Pura Mangkunegaran.
The roots of Kepangeranan Merdiko Praja Mangkualaman trace back to the founding of the Pakualaman Principality in 1813 — one of the four royal courts descending from the Mataram Islamic kingdom, alongside Kasunanan Surakarta, Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, and Pura Mangkunegaran.
Kadipaten Pakualaman didirikan oleh Paku Alam I, putra Hamengkubuwono I. Selama lebih dari satu abad, dinasti ini memegang peran penting dalam tata pemerintahan dan kebudayaan Yogyakarta.
The Pakualaman Principality was founded by Paku Alam I, son of Hamengkubuwono I. For more than a century, this dynasty played a pivotal role in the governance and culture of Yogyakarta.
Daerah Istimewa Yogyakarta Special Region of Yogyakarta
Berdasarkan Undang-Undang No. 13 Tahun 2012, Provinsi Yogyakarta ditetapkan sebagai Daerah Istimewa. Secara hukum, Sultan Ngayogyakarta yang berkuasa menjabat otomatis sebagai Gubernur, sementara Paku Alam menjabat otomatis sebagai Wakil Gubernur.
Under Law No. 13 of 2012, the Province of Yogyakarta is classified as a Special Region. By law, the reigning Sultan of Ngayogyakarta automatically serves as Governor, while the reigning Paku Alam automatically serves as Vice Governor.
Struktur hukum ini menjadikan sengketa suksesi di Pakualaman bukan sekadar persoalan budaya, melainkan juga berimplikasi politik yang signifikan.
This legal structure meant that the Pakualaman succession dispute carried significant political — not merely cultural — weight.
Landasan Hukum Mangkualaman Legal Basis of Mangkualaman
Kepangeranan Merdiko Praja Mangkualaman diakui secara sah oleh Pemerintah Indonesia berdasarkan konstitusi nasional (Bab VI, Pasal 18, 18A, dan 18B) serta Permendagri No. 39 Tahun 2007.
Kepangeranan Merdiko Praja Mangkualaman is legally recognized by the Indonesian Government under the national constitution (Chapter VI, Articles 18, 18A, and 18B) and Permendagri No. 39 of 2007.
Regulasi ini mengakui sekitar 300 keturunan sah mantan rumah kerajaan untuk menjaga keraton, mewarisi gelar budaya, dan melestarikan adat leluhur.
This regulation recognizes approximately 300 legitimate traditional royal descendants to preserve their palaces, inherit cultural titles, and maintain ancestral customs.
Sri Paduka Paku Alam VIII Al-Haj
H.R.H. Sri Paduka KGPAA Paku Alam VIII Al-Haj menjabat sebagai Adipati Pakualaman sekaligus Wakil Gubernur Yogyakarta (1950–1988), kemudian sebagai Gubernur Yogyakarta (1988–1999). Wafat pada tahun 1998 — sengketa suksesinya menjadi titik awal sejarah Mangkualaman.
H.R.H. Sri Paduka KGPAA Paku Alam VIII Al-Haj served as Duke of Pakualaman and Vice Governor of Yogyakarta (1950–1988), then as Governor of Yogyakarta (1988–1999). He died in 1998 — his succession dispute set the events of Mangkualaman's history in motion.
Garis Waktu
Sejarah Mangkualaman Historical Timeline of
Mangkualaman
Berdirinya Kadipaten Pakualaman Founding of the Pakualaman Principality
Paku Alam I mendirikan Kadipaten Pakualaman sebagai satu dari empat istana kerajaan warisan Mataram Islam.
Paku Alam I founded the Pakualaman Principality as one of the four royal courts of the Mataram Islamic heritage.
Wafatnya Paku Alam VIII Death of Paku Alam VIII
KGPAA Paku Alam VIII Al-Haj wafat pada 11 November 1998. Sengketa suksesi dimulai. Paku Alam VIII telah berjanji kepada Paku Buwono X bahwa Adipati berikutnya akan berasal dari garis istri pertama — janji yang diumumkan di Keraton Surakarta.
KGPAA Paku Alam VIII Al-Haj died on 11 November 1998. The succession dispute began. Paku Alam VIII had previously made a formal promise to Paku Buwono X that the next Duke would come from his first wife's line — a promise announced publicly at the Surakarta Palace.
Penobatan Paku Alam IX Coronation of Paku Alam IX
KPH Ambarkusumo dinobatkan sebagai Paku Alam IX. KPH H. Anglingkusumo segera mengajukan gugatan hukum atas kelayakannya.
KPH Ambarkusumo was crowned as Paku Alam IX. KPH H. Anglingkusumo immediately filed a legal challenge against his eligibility.
Anglingkusumo Pimpin Faksi Pakualaman Anglingkusumo Leads Pakualaman Faction
15 Maret 2012 — KPH H. Anglingkusumo secara resmi memimpin Rumah Kerajaan Pakualaman (faksi Anglingkusumo) di bawah gelar KGPAA Paku Alam IX Al-Haj.
15 March 2012 — KPH H. Anglingkusumo formally assumed leadership of the Royal House of Pakualaman (Anglingkusumo faction) under the title KGPAA Paku Alam IX Al-Haj.
Penobatan Paku Alam X & Tantangan Wiroyudho Coronation of Paku Alam X & Wiroyudho's Challenge
7 Januari 2016 — Hario Bimo dinobatkan sebagai Paku Alam X. KPH Wiroyudho (kelak Mangku Alam II) secara terbuka menentang dan mengajukan gugatan hukum dalam waktu 24 jam atas hak tanah dan legitimasi dinasti.
7 January 2016 — Hario Bimo was crowned Paku Alam X. KPH Wiroyudho (later Mangku Alam II) publicly opposed the coronation and filed legal challenges within 24 hours over land rights and dynastic legitimacy.
Deklarasi MATRA di Borobudur MATRA Declaration at Borobudur
28 Juli 2017 — KPH Wiroyudho mendeklarasikan MATRA (Masyarakat Adat Nusantara) di Candi Borobudur, Magelang — salah satu organisasi masyarakat terbesar Indonesia yang menghubungkan kerajaan-kerajaan adat di seluruh Nusantara.
28 July 2017 — KPH Wiroyudho declared MATRA (Masyarakat Adat Nusantara) at Candi Borobudur, Magelang — one of Indonesia's largest civil organizations connecting traditional kingdoms across the archipelago.
Penobatan Mangku Alam I — Berdirinya Mangkualaman Coronation of Mangku Alam I — Mangkualaman Established
19 Februari 2020 — KPH H. Anglingkusumo melepas klaim Paku Alam IX dan dinobatkan sebagai KGPAA Mangku Alam I Al-Haj, menegaskan Mangkualaman sebagai entitas yang berdiri sendiri.
19 February 2020 — KPH H. Anglingkusumo relinquished his Paku Alam IX claim and was coronated as KGPAA Mangku Alam I Al-Haj, establishing Mangkualaman as a distinct entity.
Gelar penobatan lengkap: Sampeyan Dalem Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Aria Mangku Alam Al-Haj Ingkang Jumeneng Maulana Abdullah Khalifatullah Al-Jawi Full coronation title: Sampeyan Dalem Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Aria Mangku Alam Al-Haj Ingkang Jumeneng Maulana Abdullah Khalifatullah Al-Jawi
Perjanjian Pemisahan Formal Formal Separation Agreement
23 Agustus 2021 — Perjanjian perdamaian bilateral resmi ditandatangani. Atas prakarsa KPH Wiroyudho, KPH H. Anglingkusumo memutuskan membangun kembali Kepangeranan Merdiko Praja Mangkualaman. Paku Alam X tidak lagi ditantang klaimnya.
23 August 2021 — A bilateral peace agreement was formally enacted. At the proposal of KPH Wiroyudho, KPH H. Anglingkusumo decided to re-establish the historic Kepangeranan Merdiko Praja Mangkualaman. Paku Alam X's title was no longer contested.
Penobatan Mangku Alam II Coronation of Mangku Alam II
26 Januari 2022 — Mangku Alam I lengser karena sakit. KPH Adipati Wiroyudho dinobatkan sebagai KGPAA Mangku Alam II — penguasa interim hingga Putra Mahkota mencapai usia 21 tahun.
26 January 2022 — Mangku Alam I abdicated due to ill health. KPH Adipati Wiroyudho was crowned KGPAA Mangku Alam II — interim ruler until the Crown Prince reaches age 21.
Sampeyan Dalem Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Aria Mangku Alam Ingkang Jumeneng Kaping Kalih Maulana Abdur Razzaq Khalifatullah
Akar Perselisihan &
Penyelesaiannya The Dispute &
Its Resolution
Sengketa berpusat pada pertanyaan klasik tentang ahli waris sah dari warisan KGPAA Paku Alam VIII Al-Haj yang wafat pada 1998. Akar perselisihan terletak pada tradisi Jawa mengenai poligami dan keabsahan silsilah, yang diperumit oleh janji khusus yang dibuat Paku Alam VIII kepada Paku Buwono X.
The conflict centred on the rightful heir to the legacy of KGPAA Paku Alam VIII Al-Haj, who died in 1998. Its root lies in Javanese royal custom regarding polygamy and lineage legitimacy, compounded by a formal promise Paku Alam VIII made to Paku Buwono X of Surakarta.
Cabang Istri Pertama — Garis Mangkualaman First Wife's Branch — Mangkualaman Lineage
KPH H. Anglingkusumo — Putra kedua Paku Alam VIII dari istri pertama. Argumen: (1) Paku Alam VIII berjanji kepada Paku Buwono X bahwa Adipati berikutnya berasal dari garis istri pertama — diumumkan di Keraton Surakarta; (2) KPH Ambarkusumo bukan anak dari pernikahan sah menurut adat kerajaan Jawa.
KPH H. Anglingkusumo — Second son of Paku Alam VIII by his first wife. Arguments: (1) Paku Alam VIII made a formal promise to Paku Buwono X that the next Duke would come from his first wife's line — announced at the Surakarta Palace; (2) KPH Ambarkusumo was not a child born from a legitimate marriage under Javanese royal custom.
Cabang Istri Kedua — Diakui Resmi Second Wife's Branch — Officially Recognized
KPH Ambarkusumo — Putra sulung Paku Alam VIII dari istri kedua. Memegang keraton dan pengakuan politik resmi dalam Daerah Istimewa Yogyakarta. Dinobatkan sebagai Paku Alam IX pada 1999.
KPH Ambarkusumo — First son of Paku Alam VIII by his second wife. Held the actual palace and official political recognition within the Special Region of Yogyakarta. Crowned Paku Alam IX in 1999.
Setelah lebih dari dua dekade perselisihan, kompromi tradisional yang unik dilaksanakan pada 23 Agustus 2021. Warisan sejarah dan klaim leluhur dibagi secara damai, memungkinkan Paku Alam X memerintah tanpa tantangan lebih lanjut, sementara Kepangeranan Merdiko Praja Mangkualaman berdiri sebagai entitas tersendiri.
After more than two decades, a unique traditional compromise was enacted on 23 August 2021. Historical holdings and ancestral claims were divided peacefully — allowing Paku Alam X to rule without further challenge, while Kepangeranan Merdiko Praja Mangkualaman stood as its own distinct institution.
Para Penguasa
Mangkualaman Sovereigns of
Mangkualaman
Pemimpin yang menjaga warisan dan memimpin kepangeranan. The leaders who preserve the heritage and lead the principality.
KGPAA Mangku Alam I Al-Haj
H.R.H. KPH H. Anglingkusumo Hamidjojo, SH., MM.
Sampeyan Dalem Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Aria Mangku Alam Al-Haj Ingkang Jumeneng Maulana Abdullah Khalifatullah Al-Jawi
KPH H. Anglingkusumo adalah putra kedua KGPAA Paku Alam VIII Al-Haj dari istri pertamanya. Setelah kematian ayahnya pada 1998, ia mengajukan klaim hak atas Kadipaten Pakualaman, berargumen bahwa janji Paku Alam VIII kepada Paku Buwono X menjamin garis istri pertama sebagai ahli waris sah.
KPH H. Anglingkusumo is the second son of KGPAA Paku Alam VIII Al-Haj by his first wife. After his father's death in 1998, he asserted a rightful claim to the Pakualaman Principality, arguing that the promise Paku Alam VIII made to Paku Buwono X guaranteed the first wife's line as legitimate heir.
Pada 1999, ia menentang penobatan KPH Ambarkusumo sebagai Paku Alam IX, memulai perselisihan hukum dan dinasti selama dua dekade. Selama masa ini ia memimpin Rumah Kerajaan Pakualaman (faksi Anglingkusumo) dan mendirikan MATRA pada 2017 — membangun jaringan lebih dari 267 kerajaan adat di seluruh Nusantara.
In 1999, he contested the coronation of KPH Ambarkusumo as Paku Alam IX, initiating two decades of legal and dynastic dispute. During this time he led the Royal House of Pakualaman (Anglingkusumo faction) and established MATRA in 2017 — building a network of more than 267 traditional kingdoms across the archipelago.
Pada 19 Februari 2020, ia melepas klaim Paku Alam IX dan dinobatkan sebagai KGPAA Mangku Alam I Al-Haj, menegaskan Kepangeranan Merdiko Praja Mangkualaman sebagai entitas tersendiri. Ia memerintah hingga 26 Januari 2022, ketika sakit membuatnya turun takhta.
On 19 February 2020, he relinquished his Paku Alam IX claim and was coronated as KGPAA Mangku Alam I Al-Haj, establishing Kepangeranan Merdiko Praja Mangkualaman as a distinct entity. He ruled until 26 January 2022, when illness prompted his abdication.
KGPAA Mangku Alam II
KPH Adipati Wiroyudho
Sampeyan Dalem Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Aria Mangku Alam Ingkang Jumeneng Kaping Kalih Maulana Abdur Razzaq Khalifatullah
KPH Adipati Wiroyudho dinobatkan sebagai KGPAA Mangku Alam II pada 26 Januari 2022, mengambil alih kepemimpinan setelah Mangku Alam I turun takhta karena sakit. Ia memerintah sebagai penguasa interim hingga Putra Mahkota mencapai usia 21 tahun.
KPH Adipati Wiroyudho was crowned KGPAA Mangku Alam II on 26 January 2022, assuming leadership after Mangku Alam I's abdication due to ill health. He rules as interim sovereign until the Crown Prince reaches age 21.
Sebagai arsitek utama perjanjian damai bilateral 2021, Wiroyudho memainkan peran menentukan dalam mengakhiri sengketa dua dekade antara klaim Mangkualaman dan Pakualaman. Ia mengusulkan kompromi yang memungkinkan Paku Alam X memerintah tanpa tantangan, sementara Kepangeranan Merdiko Praja Mangkualaman berdiri sebagai entitas tersendiri.
As principal architect of the 2021 bilateral peace agreement, Wiroyudho played a decisive role in ending the two-decade dispute between the Mangkualaman and Pakualaman claims. He proposed the compromise allowing Paku Alam X to rule uncontested, while Kepangeranan Merdiko Praja Mangkualaman stood as a distinct entity.
Di bawah kepemimpinannya, Mangkualaman aktif mengembangkan MATRA, menyelenggarakan festival budaya nasional (FABN), dan memperkuat jaringan kerajaan adat di seluruh Indonesia.
Under his leadership, Mangkualaman actively develops MATRA, organizes national cultural festivals (FABN), and strengthens the network of traditional kingdoms throughout Indonesia.
Putra Mahkota
Kepangeranan Mangkualaman Crown Prince of
Kepangeranan Mangkualaman
Putra Mahkota Kepangeranan Merdiko Praja Mangkualaman adalah pewaris takhta yang sah. Sesuai ketentuan transisi Januari 2022, Mangku Alam II memerintah sebagai penguasa interim hingga Putra Mahkota mencapai usia 21 tahun dan siap mengambil alih tanggung jawab penuh kepangeranan.
The Crown Prince of Kepangeranan Merdiko Praja Mangkualaman is the legitimate heir to the throne. As established in the January 2022 transitional arrangement, Mangku Alam II rules as interim sovereign until the Crown Prince reaches age 21 and is ready to assume full responsibility of the principality.
Tradisi Jawa mengutamakan kesiapan, kematangan, dan pembentukan karakter dalam mempersiapkan seorang pemimpin kerajaan — mencakup penguasaan adat, seni, hukum, dan kepemimpinan.
Javanese tradition prioritises readiness, maturity, and character formation in preparing a royal leader — encompassing mastery of custom, arts, law, and governance.
Tokoh-Tokoh dalam
Sejarah Mangkualaman Figures in the
History of Mangkualaman
Paku Alam I
Mendirikan Kadipaten Pakualaman pada 1813 sebagai satu dari empat kerajaan pewaris Mataram Islam.
Founded the Pakualaman Principality in 1813 as one of the four kingdoms of the Mataram Islamic heritage.
KGPAA Paku Alam VIII Al-Haj
Adipati Pakualaman (1938–1998) dan Gubernur/Wagub Yogyakarta. Wafat 1998 — sengketa suksesinya memulai sejarah Mangkualaman.
Duke of Pakualaman (1938–1998) and Governor/Vice Governor of Yogyakarta. Died 1998 — his succession dispute initiated Mangkualaman's history.
KGPAA Paku Alam IX (Ambarkusumo)
KPH Ambarkusumo, putra dari istri kedua Paku Alam VIII. Dinobatkan Paku Alam IX pada 1999 — memegang keraton dan pengakuan resmi.
KPH Ambarkusumo, son of Paku Alam VIII's second wife. Crowned Paku Alam IX in 1999 — held the actual palace and official recognition.
KGPAA Paku Alam X
Hario Bimo, dinobatkan 7 Januari 2016. Diakui resmi sebagai Adipati Pakualaman dan otomatis Wakil Gubernur Yogyakarta (UU 13/2012).
Hario Bimo, crowned 7 January 2016. Officially recognized as Duke of Pakualaman and automatic Vice Governor of Yogyakarta (Law 13/2012).
KGPAA Mangku Alam II
KPH Adipati Wiroyudho. Arsitek perjanjian damai 2021. Penguasa interim Mangkualaman sejak 26 Januari 2022.
KPH Adipati Wiroyudho. Architect of the 2021 peace agreement. Interim sovereign of Mangkualaman since 26 January 2022.
Sri Sultan Hamengku Buwono X
Sultan Ngayogyakarta Hadiningrat. Berdasarkan UU 13/2012, otomatis menjabat Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta.
Sultan of Ngayogyakarta Hadiningrat. Under Law 13/2012, automatically serves as Governor of the Special Region of Yogyakarta.
Paku Buwono X
Sunan Kasunanan Surakarta. Paku Alam VIII berjanji kepadanya bahwa Adipati berikutnya berasal dari garis istri pertama — diumumkan di Keraton Surakarta.
Sunan of Kasunanan Surakarta. Paku Alam VIII promised him that the next Duke would come from his first wife's line — announced publicly at the Surakarta Palace.
Hamengkubuwono I
Sultan pertama Ngayogyakarta Hadiningrat dan ayah dari Paku Alam I — leluhur bersama kedua cabang dinasti.
First Sultan of Ngayogyakarta Hadiningrat and father of Paku Alam I — shared ancestor of both dynastic branches.
Upacara Adat Royal Ceremonies
Tradisi dan ritual kerajaan yang dijaga
The royal traditions and rituals preserved
Persaudaraan KinshipAliansi Alliances
Jaringan kerajaan sekutu di Nusantara dan dunia
The network of allied kingdoms across the world
Jaringan NetworkMATRA
Masyarakat Adat Nusantara — 267+ kerajaan
Masyarakat Adat Nusantara — 267+ kingdoms